Saturday, 12 March 2016

SANAD KEILMUAN DAN WARISAN NABI

    Dulu aku sering diajak oleh syeikh Mula Yusuf kurdi mengunjungj syeikh Muhammad said ramadhan albuthy, biasanya untuk urusan bisnis, lalu dilanjutkan dengan diskusi dan debat mencerahkan dari dua ulama kurdi bermazhab syafii ini, biasanya aku mah terpesona aja, melihat dua lautan ilmu beradu, seolah aku tenggelam kedalam arus laut itu. Syukurlah candaan tentang lelucon orang kurdi mereka, sering menyelamatkanku agar tidak jadi tenggelam dalam arus lautan ilmu itu.

    Suatu kali Syeikh albuty bertanya kepadaku, Fauzan kamu baca apa sama Mula Yusuf? Aku katakan, fiqh syafii, ushul fiqh, dan syamail muhammadiyah. Beliau "Teruslah baca seperti itu, karena begitulah ilmu didapat, setiap huruf dari kitab harus didengarkan penjelasannya dari guru agar memahaminya dengan benar, dan kami dulu seperti itu belajar kepada guru kami, dan guru kami juga belajar kepada gurunya seperti itu, begitu sampai kepada pengarang kitab. Para pengarang kitab ini mewarisi ilmunya dari gurunya dengan cara yang sama sampai kepada rasulullah".

    Nah inilah yang dinamakan sanad, jangan dianggap sanad hanya didapatkan dari ijazah dan memahami apa yang diijazahkan, itu sama sekali bukan sanad yang diperintahkan untuk didapatkan, jadi bagaimana?

    Malaikat Jibril turun membawa risalah dari tuhan, lalu Nabi Muhammad SAW.belajar kepada Jibril setiap detail risalah Tuhan, duduk dihadapan Jibril sampai kedua lututnya beradu dengan lututnya Jibril. Kemudian para sahabat belajar kepada Nabi Muhammad dengan cara yang sama, siang malam mereka habiskan dengan Nabi Muhammad, makan bareng, becanda bareng, jalan-jalan bareng, belajar bareng jadi apa yang dipikirkan Nabi dalam memahami risalah Tuhan benar-benar dipahami para sahabat dengan cara yang benar.

    Para sahabat junior seperti Abnu Abbas, Ibnu Umar, Hasan bin Ali, Abdullah bin Zubair, Abdullah ibn Amru bin Ash belajar kepada senior mereka seperti Ali, Umar, Usman, Abdullah bin Mas'ud, Ubay, Zaid, dll. Mereka menghabiskan masa muda mereka untuk barengan dengan murid senior Rasulullah, membuat mereka paham betul bagaimana pemahaman Rasul kepada risalah Tuhan dan apa yang diajarkan Rasul kepada sahabat. Ilmu itulah yang diturunkan kepada generasi selanjutnya.

    Untuk memahami bagaimana memahami risalah Ilahi dengan benar, sesuai dengan yang dipahami Nabi, dan para sahabat. Hal yang sama juga dilakukan para tabiin yang menjadi murid para sahabat Nabi, tabiin makkah kepada Sayidina Abdullah ibn Abbas, tabiin madinah kepada
Abdullah ibn Umar, tabiin syam kepada Abu Darda, tabiin iraq kepada Anas bin Malik, mereka mengahabiskan waktu mereka bersama para sahabat, tak jarang diantara mereka dianggap sebagai maula (tangan kanan/pelayan) guru-guru mereka, kebersamaan mereka membuat mereka memahami bagaimana pemahaman yang benar terhadap syariah seperti yang diinginkan Nabi Muhammad karena mereka mengambil pemahaman itu dari orang yang memahaminya, yaitu murid Rasulullah.

    Nah tradisi ini terus diturunkan, sehingga muncul mazhab-mazhab besar yang namanya dinisbatkan kepada madrasah para pemilik sanad, dan yang bertahan sampai sekarang adalah 4 mazhab fiqh besar yang sanadnya jelas, adapun mazhab zahiri rantai sanadnya terputus sehingga hanya ada buku adapun bagaimana memahaminya tidak ada yang mewarisi, mazhab lainnya malah sama sekali tidak ada buku yang membahas dari bab taharah sampai bab perbudakan masalah fiqh makanya mazhabnya punah, belum lagi bagaimana memahami fatwa yang tidak diwariskan.

    Nah pemahaman terhadap islam yang diwariskan inilah yang dinamai sanad keilmuan, dan seperti inilah pemahaman ilmu islam diwariskan, begitu juga cara mereka mengambil ilmu dari para pendahulunya , kebersamaan dalam waktu yang panjang bersama guru, belajar dari mulut kemulut yang bersambung kepada Rasulullah, canda bareng, makan bareng, diskusi bareng, sampai seorang murid dianggap keluarga sendiri dari sang guru, begitulah cara mendapatkan warisan ilmu dari ulama. Nah jika ada pendapat yang kontroversi dan aneh-aneh dan menyalahi 4 mazhab yang pokok, patut kita tanyakan darimana sanad keilmuan kalian? Zaman ini? Jangan heran jika banyak pendapat yang aneh-aneh, dan memahami agama dengan cara yang mengerikan. Kebanyakan karena budaya mendapatkan warisan sanad keilmuan ditinggalkan. Sanad keilmuan inilah yang membuat ulama dijuluki pewaris para Nabi, karena mereka adalah yang paling memahami bagaimana Nabi memahami risalah Ilahi, warisan keilmuan ribuan tahun terus di diwariskan kepada generasi selanjutnya.

    Apakah itu semua cukup? Tidak!!! Disana ada hal lain yanh harus diperhatikan, kita harus mengambil ilmu dari orang yang tidak berbohong ini yang disebut adil. Pinter, punya sanad, adil, apakah cukup? Tidak!! Disyaratkan juga tidak beda sendiri, ini yang dinamakan tidak syaz. Seperti inilah kemurnian agama dijaga.

Tulisan Ustaz Fauzan (pelajar di Damaskus)


Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

Enter your email address:

Author-rights® by: QH

Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks
notifikasi
close