Tuesday, 27 September 2016

DOWNLOAD BUKU atau KITAB MENOLAK WAHABI


    Asssalamu'alaikum...!!
untuk saudara-saudaraku yang ingin download buku-buku membantah/menolak kaum Wahabi, berikut saya berikan linknya, jika ada link rusak mohon diberitahukan, dan Insya Allah buku-buku/kitab-kitab akan terus bertambah.

1.  PERINGATAN MAULID AR-RASUL SEBUAH UNGKAPAN CINTA UNTUK AS-SAYYID AL-MURSALIN (pdf) yang mau file APK (untuk android) DISINI

2.  AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH DAN IJTIHAD (chm)

3.  AHLUSSUNNAH MEMBANTAH IBNU TAYMIYAH (pdf)

4.  AL-FIRQAH AL-NAJIYAH GOLONGAN YANG SELAMAT (pdf)

5.  BUKU PINTAR BERDEBAT DENGAN WAHABI (pdf)

6.  RADIKALISME SEKTE WAHABIYAH (pdf)

7.  FATWA ISU PENTING (pdf)

8.  KENALILAH AKIDAHMU (pdf)

9.  KENALILAH AKIDAHMU 2 (pdf)

10.  KESAHIHAN DALIL TARAWIH 20 RAKA'AT (pdf)

11.  KESESATAN NASHIRUDDIN AL BANI (pdf)

12.  KESESATAN NASHIRUDDIN AL BANI DALAM ILMU HADIS (pdf)

13.  KOMPILASI ARTIKEL NU ONLINE (pdf)

14.  MAFAHIM YAJIB AN TUSHAHHAH-faham-faham yang harus diluruskan (pdf)

15.  MEMBONGKAR KEDOK KAUM SALAFY (chm)

16.  MEMBONGKAR PEMIKIRAN DAN KEPALSUAN AJARAN SALAFY (chm)

17.  MEMBONGKAR SALAFY-WAHABY (chm)

18.  MENITI KESEMPURNAAN IMAN -bantahan atas benteng tauhid bin Baz (pdf)

19.  MENYIKAP TIPU DAYA & FITNAH KEJI FATWA-FATWA KAUM SALAFY-WAHABI (pdf)

20.  PENJELASAN LENGKAP ALLAH ADA TANPA TEMPAT & TANPA ARAH (pdf)

21.  QASIDAH PUJIAN PERTAMA PADA ZAMAN NABI (docx)

22.  RISALAH WAHABIYAH (docx)

23.  TALQIN & 100 BUAH KITAB MENOLAK FAHAMAN WAHABI (pdf)

24.  TASHIH SHOLAT TARAWIH 'ISYRUNA RAKA'ATAN ~ bahasa Arab (pdf)

25.  KITAB DAKWAH WAHABI- karangan-
        Ulama Aceh, bahasa Arab (pdf)



Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

Monday, 26 September 2016

APAKAH AS'ARIYAH & MATURIDIYAH TERMASUK AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH?

   Wahai Sejarah!! katakan kepadaku!! apakah maturidiyah dan asy'ariyah termasuk Ahlusunnah Waljama'ah? mazhab Ahlusunnah Waljamaah disebut sebagai mazhab mayoritas, begitu banyak klaim dari beberapa kelompok Islam, sebenarnya mudah sekali menjawab, bawalah itu ke standard dua abad lalu, dua abad lalu Pesantren di tanah jawi dan malawi (indonesia, malaysia, thailand) kitab aqidah yang diajarkan apa? Dan dari mazhab apa? Mufti besar yang disepakati bersama seperti Syeikh Abdurrauf as-singkili apa aqidahnya?
   Dua abad lalu madrasah besar di kerajaan Moghul apa? Madrasah dengan kurikulum madrasah Nizamiyah. Mujadid Sahrandi atau Syah Waliyullah yang menjadi rujukan hampir semua madrasah di anak benua India, mengajarkan aqidah apa? Untuk mengetahui, harus tau kitab apa yang diajari disana ketika itu.
   Di Afrika barat emperator Sudan raya berpusat di Mali, mempunyai madrasah dan perpustakaan besar, dua abad lalu kuttab disana mengajarkan aqidah apa? Bisa terjawab dari kitab aqidah yang diajarkam dalam kurikulumnya. Di Syam, madrasah yang menjadi rujukan adalah Darul hadis al-Asyrafiyah, dua abad lalu aqidahnya apa? Bisa dilihat dari kitab aqidah yang diajarkan didalamnya.
   Di mesir, madrasah terbesar adalah al Azhar, masa itu hampir semua madrasah dan Ruwaq di Mesir berkiblat kesitu, dua abad lalu aqidahnya apa? bisa dilihat kitab aqidah yang diajarkan di Magrib araby (Tunis, Tazair, Maroko, Mauritania) madrasah terbesar Fez, Syinqit, dan Zaitunia, hampir semua madrasah, mahzarah, dan kuttab berkiblat kesitu, aqidahnya pakai mazhab apa? kitab yang diajarkan apa?
   Turki Usmany? dua abad lalu, Mazhab resmi kekhalifahan apa? Mufti agung dan syaikhul Aslam siapa? aqidah mereka apa? Kitab yang mereka ajarkan dihampir semua kutab apa? Bisa dilihat sejarahnya.
   Hijaz? Mufti di Hijaz dua abad lalu siapa? Aqidah mereka apa? kitab yang diajarkan apa? Bisa dibaca sejarahnya. Dinegara belakang sungai, Bukhara, Tashkent dan sekitarnya, dua abad lalu madrasah Imam Bukhari yang menjadi standar kurikilum mayoritas daerah itu aqidah apa? Kitab apa yang di ajarkan? Bisa dibaca sejarahnya.
  Saya rasa semuanya sudah tau jawabannya, benar!!! Jawabannya kalau semua madrasah tadi adalah Asy'airah, Fudhala Hanabilah dan Maturidiyah, dan sejarah ini tercatat secara mutawatir. Bahkan pimpinan madrasah yang disebutkan tadi adalah pensyarah buku-buku mu'tamad dalam mazhab Asy'airah dan Maturidiyah. kitab yang diajarkan? Sama, Maturidiyah, Asy'airah, dan Fudhala Hanabilah. Mulai dari iqtisad fil itiqad ghazaly, arbain ar-razy, matan sanusiyah dari hafid sampai jad, matan jauharah tauhid, matan kharidah, almaqasid, al mawaqif, aqidah nasafiyah, dll, kitab inilah yang mewarnai madrasah besar yang menjadi mayoritas diseluruh dunia tadi. Bandingkan dengan madrasah non Asy'airah-Maturidiyah dua abad lalu? Sangat sedikit yang menjadi kurikulum zaman itu. Maka pada zaman itu jika ada yang menyebut AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH kita bisa tau siapakah yang dimaksud. 
   Sejarah ini memberikan kita dua pilihan:
pertama, mengatakan bahwa Asy'airah dan Maturidiyah Ahlusunnah, karena mereka mayoritas. Atau yang kedua, menganggap Asy'ariyah dan Maturidiyah bukan Ahlussunnah Waljamaah, maka yang terjadi adalah mayoritas Muslimin bukan Ahlussunnah  Waljama'ah, jadi dakwa mayoritas Ahlussunnah Waljama'ah yang selama ini didengungkan adalah batil.
   Kenapa kita pilih dua abad lalu? karena dari abad tujuh sampai dua abad lalu Ahlusunnah Waljama'ah jelas ketahuan siapa, kelompok dan organisasi yang mengatakan bahwa mereka adalah Ahlusunnah Waljama'ah belum banyak muncul, bahkan belum muncul sama-sekali, jadi tidak mungkin kita mengatakan bahwa dari abad tujuh hijriyah sampai dua abad lalu, mayoritas Muslim sesat, karena mayoritas mereka Asy'ariyah-Maturidiyah.
   Sebenarnya yang seperti ini tidak perlu ditulis, bahkan untuk 20 tahun lalu, karena syeikh google belum menyerang, tapi saat ini sepertinya sudah menjadi kebutuhan untuk dijelaskan, lebih tepatnya penegasan, soalnya santri lebih senang bertanya pesantren internet, dan syeikh google kebanyakan memang menguasai dengan dana berlimpah dari minyak mentah, maka dari itu jika bertanya pada syeikh google yang pertama muncul adalah penjelasan kalau Asy'ari-Maturidi bukan Ahlusunnah Waljama'ah, itu sama saja mengeluarkan mayoritas umat islam abad 7-12 dari Ahlusunnah Waljama'ah, kalau sudah begitu Alusunnah Waljama'ah bukan lagi mayoritas sebagaimana didengungkan selama ini, maka dari itu sudah saatnya hal seperti ini dijelaskan, karena sejarah mengatakan jika ada mazhab yang disebut Ahlussunnah Waljama'ah dalam kitab Turast setelah abad ke tiga maka yang dimaksud adalah Asy'ariyah dan Maturidiyah dan Fudhala Hanabilah.
   Lalu bagaimana dengan organisasi dan kelompok yang muncul belakangan dimana mereka menisbahkah diri kepada Ahlussunnah Waljama'ah, seperti NU, HT, IM, Muhammadiyah, Jamaah tabligh, Salafy, dll ? Bisakah disebut Ahlussunnah Waljamaah? Atau bagaimana pula dengan sebagian orang yang mengaku Ahlussunnah Waljama'ah, tapi tidak menisbatkan diri pada Asy'airah, Maturidiyah atau Fudhala Hanabilah? Lalu bagaimana orang-orang sebelum Imam Ahmad, imam Abu Hasan Asy'ary, dan Abu Mansur Maturidi? Lalu bagaimana jika ada orang yang menisbatkan diri pada Asy'ariyah, Maturidiyah, dan Fudhala Hanabilah, apakah semuanya bisa auto-Ahlusunnah? Ini semua akan dijelaskan lain kali saudaraku, insya Allah.

Sumber: Ustaz Fauzan mahasiswa Damaskus



Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

Sunday, 25 September 2016

BENARKAH WAHABI PEWARIS SEJATI MAZHAB SALAF (bahagian pertama)


                            Mentawîl Ayat-ayat Sifat Adalah Mazhab Salaf Shaleh.
   Ada dua poin yang perlu dicermati dengan teliti, Pertama, mazhab Wahhabi kental dengan faham Tasybîh dan Tajsîm dalam memahami nash-nash tentang sifat Allah SWT. tetapi mereka selalu mengelaknya dan berbelit-belit dalam membela diri. Kedua, mereka mengklaim bahwa faham mereka itu adalah representatif faham para sahabat Nabi dan tabi’în serta Salaf Ummat ini.

   Dalam klaim mereka para sahabat dan tabi’în dalam menyikapi ayat-ayat atau hadis-hadis sifat adalah memberlakukan pemaknaannya dengan makna lahiriyah yang dikesankan oleh lahir lafadznya. Kata عينٌ - ساقٌ- يَدٌ- dan semisalnya harus dimaknai secara lahiriyah apa adanya tanpa memasukkan unsur majazi yang akrab dipergunakan dalam sastra Arab. Kata يدٌ harus dimaknai tangan, kata عينٌ harus dimaknai mata, dan kata ساق harus dimaknai betis. Ketika kata-kata itu dipergunakan untuk menyebut sifat Allah SWT. maka arti yang sama pula harus kita fahami darinya.

   Dasar pemahaman seperti ini tidak asing dalam pola pikir Sekte Wahhabiyah dan dapat dengan mudah kita temukan keterangan dan uraiannya dalam buku-buku akidah mereka. Jadi tidak perlu rasanya saya menyebutkannya lagi dari keterangan mereka. Artikel ini, tidak bermaksud menyalahkan atau mendukung pola pandang seperti itu. Hanya saja yang menjadi sorotan artikel kali ini adalah apakah benar para sahabat dan tabi’în (Salaf Shaleh) berfaham seperti itu? Sepertinya, para arsitek Sekte Wahhabiyah perlu mencari pembelaan bahwa mazhab mereka dalam masalah sifat Allah ini adalah memiliki akar historis yang menyambungkannya kepada generasi awal Islam yang cemerlang… tentunya agar dapat menarik para peminat agar tergiur dengan slogan, “Mazhab kami adalah mazhab Salaf; Sahabat dan Tabi’în” … Minimal itu adalah trik pemasaran yang sungguh simpatik dan diharap dapat mendongkrak tinggkat minat para konsumen.

                  Mazhab Salaf Bertolak-belakang dengan Faham Wahhabiyah!
   Para tokoh Sekte Wahhabiyah, seperti Ibnu Utsaimin dan lainnya telah panjang lebar mengkritik segala bentuk usaha mena’wilkan ayat-ayat atau hadis-hadis sifat. Mereka mengecamnya sebagai slogan kaum Jahmiyah dan Mu’aththilah… telah menyalai Al Qur’an dan Sunnah serta telah terjebak oleh kesesatan para filsuf. Kepalsuan slogan mereka ini telah memikat sebagian pelajar agama yang belum matang pemahaman agamanya. Bahkan tidak jarang muncul anggapan bahwa mena’wîl ayat-ayat sifat adalah dhalâl, kesesatan, bid’ah, terjangkit faham Jahmiyah dan para salaf tidak mengenal ta’wîl !! Akan tetapi, setiap yang mau menyempatkan diri membuka-buka lembaran kitab para ulama pasti akan mengetahui dengan gamblang bahwa para Salaf; generasi terdahulu, sahabat, tabi’în dan tabi’ut tabi’în telah melibatkan diri dalam mena’wil ayat-ayat atau hadis-hadis sifat… mereka menegaskan bahwa dzahir sebagian ayat sifat itu bukan yang dimaksud olehnya. Dan sikap mereka itu pastilah diambil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi saw. yang shahihah. Dalam kesempatan ini saya akan sebutkan beberapa contoh dari ta’wîl mereka agar dimengerti bahwa klaim kaum Wahhabi dalam hal ini adalah tidak berdasar dan justru bukti-bukti yang ada menentang klaim mereka!

Al Qur’an dan Sunnah Mengajarkan Ta’wîl

1) Allah SWT telah mengajari kita ta’wîl, dalam kitab suci-Nya. Allah SWT berfirman:

نَسُوا اللهَ فَنَسِيَهُمْ
“mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka.” (QS.9 [at Taubah] :67)
إِنَّا نَسِيْناكمْ
“Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu.” (QS.32 [as Sajdah];14)
Ayat-ayat yang menyebutkan sifat lupa bagi Allah SWT haruslah dita’wîl dengan makna selain makna dzahirnya. Allah Maha Suci dari sifat lupa kendati kata lupa telah dipergunakan dalam ayat-ayat Al Qur’an untuk Allah SWT. Kita tidak dibenarkan menetapkan sifat lupa bagi Allah SWT. walaupun dengan mengatakan bahwa “lupa Allah tidak seperti lupa kita”, seperti yang biasa dikatakan oleh kaum Musyabbihah/Wahhabi ketika menyebut beberapa sifat Allah yang tertera dalam Al Qur’an, sebab Allah telah berfirman:
وَ ما كانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
“… dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Q.S. Maryam: 64)
Tidaklah halal bagi seorang yang berakal waras untuk mengatakan bahwa “Allah lupa, tetapi tidak seperti lupa kita, Allah duduk tetapi tidak seperti duduk kita, Allah bersemayam di langit tetapi Dia tidak menyerupai sesuatu apapun.” Kata-kata terakhir (tetapi tidak seperti lupa kita dll.) tidak berguna sama sekali, ia tidak dapat menghindarkan dari tuduhan tasybîh dan tajsîm, sebab tidak semua kata yang datang dalam sifat Allah SWT. dapat ditetapkan sebagai sifat bagi Allah secara lahiriyah.
Ketika kaum Wahhabi mengatakan Allah duduk, Allah turun, maka tidaklah berguna kata-kata yang mengatakan bahwa duduk dan turun Allah tidak seperti duduk dan turun kita, sebab turun itu artinya pergeseran dan perpindahan dari sebuah tempat yang lebih tinggi ke tempat lain yang lebih rendah, artinya ada gerak di situ, lalu apabila setelah menetapkan sifat itu bagi Allah SWT kita mengatakan tetapi tidak seperti duduk dan turun kita maka kita akan menafikannya, baik kita sadari atau tidak.
Jadi kata-kata itu adalah kontradiksi belaka, sebab yang namanya turun meniscayakan adanya gerak, dan gerak adalah sifat makhluk, hâdits. Jika dikatakan adanya turun tetapi tanpa gerak, itu tidak logis dan benar-benar telah menjungkir-balikkan makna bahasa!! Itu adalah kontradiksi antara pembukaan kalimat dan akhirannya! Berbeda dengan ketika kita mengatakan, “Allah Maha mendengar, Samî’ tetapi tidak seperti pendengaran kita, Allah Maha Melihat, Bashîr tetapi tidak seperti penglihatan kita” sebab maksud “Allah Maha Mendengar” ialah kita menetapkan sifat mendengar, sam’u, kemudian kita menyucikan Allah dari kebutuhan kepada alat bantu dalam mendengar yaitu telinga. Di sini dapat dibayangkan adanya sifat mendengar tanpa bantuan alat kemudian kita menyerahkan kepada Allah pengetahuan tentang bagaimana sifat Maha Mendengar itu, sebab sifat Dzat Maha Pencipta tidaklah mampu dijangkau oleh makhluk-Nya yang serba lemah ini. Di sini ada penetapan sifat dan ada penyucian dari menyerupai makhluk-Nya dan kemudian men-tafwîdh, menyerahkan ilmu tentangnya kepada Allah SWT. dan itu sangatlah berbeda dengan ucapan kaum Wahhabi, “Allah duduk, Allah turun tetapi tidak seperti duduk dan turunnya kita.” Seperti telah disebutkan sebelumnya.
Kenyataan ini akan makin jelas dengan memerhatikan contoh di bawah ini.

2) Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat hadis qudsi:

يَا ابنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَم تَزُرْنِيْ قال: يا ربِّ كيفَ أَعودُكَ وَ أنتَ ربُّ العالَمِيْنَ، قال: أمَا علِمتَ أَنَّ عبْدِيْ فلانًا مَرِضَ فلَمْ تَعُدْهُ، أما علمتَ أَنَكَ لو عُدْتَهُ وَجَدْتَنِي عِنْدَهُْ
“Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia [hamba] berkata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Âlamîin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…“ (HR. Muslim,4/1990, hadis no.2569)

Abu Salafi berkata:
Wahai Anda yang berakal waras, bolehkah kita mengatakan, “Kita akan menetapkan bagi Allah sifat sakit, tetapi sakit Allah tidak seperti sakit kita; makhluk-Nya?!! Bolehkah kita meyakini bahwa jika ada seorang hamba sakit maka Allah juga akan terserang sakit, dan Dia akan berada di sisi si hamba yang sakit itu?, dengan pemahaman dzahir teksnya dan dengan tanpa memasukkan unsur majazi?!! Pasti tidak!!
Bahkan kita berhak mengatakan bahwa siapa saja yang mensifati Allah dengan “Sakit” atau “Dia sedang Sakit” dia benar-benar telah kafir! Sementara pelaku pada kata kerja مَرِضْتُ adalah kata ganti orang pertama/aku/si pembicara yaitu Allah. Jadi berdasarklan dzahir teks dalam hadis itu, Allah-lah yang sakit. Tetapi pastilah dzahir kalimat itu bukan yang dimaksud. Kalimat itu harus dita’wîl. Demikian pandangan setiap orang berakal. Dan ini adalah sebuah bukti bahwa Sunnah pun mengajarkan ta’wîl kepada kita.
Makna hadis di atas menurut para ulama sebagaimana diuraikan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim sebagai berikut, “Para ulama berkata, ‘disandarkannya sifat sakit kepada-Nya sementara yang dimaksud adalah hamba sebagai tasyrîf, pengagungan bagi hamba dan untuk mendekatkan. Para ulama berkata tentang maksud ‘engkau akan dapati Aku di sisinya’ engkau akan mendapatkan pahala dari-Ku dan pemuliaan-Ku… “ (Syarah Shahih Muslim,16/126)

   Berdasarkan kaidah yang ditegakkan di atas pondasi Al Qur’an dan Sunnah di atas, para sahabat, tabi’în dan para imam mujtahidîn berjalan dalam memahami ayat-ayat dan hadis-hadis sifat.
Untuk lebih meyakinkan mari kita ikuti ta’wîl mereka sebagai terangkum di bawah ini.
Ibnu Abbas ra. Menta’wîl
Di antara sahabat besar yang berjalan di atas kaidah ta’wîl adalah Sayyiduna Ibnu Abbas ra., anak paman Rasulullah saw. dan murid utama Imam Ali -karramallahu wajhahu- dan pernah mendapat do’a Nabi saw. , “Ya Alah ajarilah dia (Ibnu Abbas) tafsir Kitab (Al Qur’an).” (HR. Bukhari)
Telah banyak riwayat yang menukil ta’wîl beliau tentang ayat-ayat sifat dengan sanad yang shahih dan kuat.
Di bawah ini akan saya sebutkan sebagiannya.

1) Ibnu Abbas menta’wîl ayat:

يومَ يُكْشَفُ عَنْ ساقٍ
“Pada hari betis disingkapkan.” (QS.68 [al Qalam]:42)
Ibnu Abbas ra. berkata, “Disingkap dari kekerasan (kegentingan).”
Di sini kata ساقٍ (betis) dita’wîl dengan makna شِدَّةٌ kegentingan.
Ta’wîl di atas telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya,29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan, “Berkata sekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl , maknanya ialah, “Hari di mana disingkap (diangkat) perkara yang genting.”
Dari sini tampak jelas bahwa menta’wîl ayat sifat adalah metode para sahabat dan tabi’în. Mereka adalah salaf kita dalam metode ini.Ta’wîl itu juga dinukil oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, Said ibn Jubair, Qatadah dll.

2) Ibnu Abbas ra. menta’wîl ayat:

و السَّمَاءَ بَنَيْناهَا بِأَيْدٍ و إِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS.51 [adz Dzâriyât] : 47)
Kata أَيْدٍ secara lahiriyah adalah telapak tangan atau tangan dari ujung jari jemari hingga lengan, ia bentuk jama’ dari kata يَدٌ. (Baca Al Qamûs al Muhîth dan Tâj al ‘Ârûs,10/417.)
Akan tetapi Ibnu Abbas ra’ di sini mena’wîlnya dengan بِقُوَّةٍ dengan kekuatan. Demikian diriwayatkan al Hafidz Imam Inbu Jarir ath Thabari dalam tafsirnya, 7/27. Selain dari Ibnu Abbas ra., ta’wîl serupa juga diriwayatkannya dari para tokoh tabi’în dan para pemuka Salaf Shaleh seperti Mujahid, Qatadah, Manshur Ibnu Zaid dan Sufyan.

3) Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat yang menyebut Allah melupakan kaum kafir dengan ta’wîl ‘menelantarkan/membiarkan’.

Allah SWT berfirman:

فَاليومَ نَنْساهُمْ كما نَسُوا لِقاءَ يومِهِم هَذَا
“Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS.7 [al A’râf];51)

Ibnu Jarir berkata:
‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat, kami melupakan mereka, Dia berfirman, Kami membiarkan mereka dalam siksa… “ (Tafsir Ibnu Jarir,8/201)
Di sini Ibnu Jarir mena’wîl kata melupakan dengan membiarkan. Dan ia adalah pemalingan sebuah kata dari makna aslinya yang dzahir kepada makna majazi/kiasan. Beliau telah menukil ta’wîl tersebut dengan berbagai sanad dari Ibnu Abbas ra., Mujahid dll. Ibnu Abbas ra. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an….Mujahid adalah seorang tabi’în agung…Ibnu Jarir ath Thabari adalah Bapak Tafsir kalangan Salaf…

Catatan:
   Para tokoh sentral Sekte Wahhabiyah, seperti Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh, tidak meragukan sedikitpun keagungan Ibnu Abbas dan murid-murid beliau dan bahwa mereka adalah tokoh-tokh ahli tafsir generasi tabi’în.
Ketika menyebut Mujahid misalnya, Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh berkata: “Mujahid adalah Syeikh, tokoh ahli tafsir, seorang Imam Rabbani, naman lengkapnya Mujahid ibn Jabr al Makki maula Bani Makhzûm. Fadhl ibn Maimûn berkata, ‘Aku mendengar Mujahid berkata, ‘Aku sodorkan mush-haf kepada Ibnu Abbas beberapa kali, aku berhenti pada setiap ayat, aku tanyakan kepadanya; tentang apa ia turun? Bagaimana ia turun? Apa maknanya?.”Ia wafat tahun102H pada usia 83 tahun, semoga Allah merahmatinya. Ibnu Abdil Wahhab sendiri telah berhujjah dan mengandalkannya dalam banyak masalah dalam kitab at Tauhidnya.
Dengan demikian ke-salaf-an mereka tidak diragukan bahkan oleh Wahhabiyah sendiri!!! Jadi sekali lagi jelaslah bahwa telah tetap adanya metode ta’wîl oleh para salaf. Dan di atas jalan inilah para ulama, seperti Imam al Asy’ari dan para pengikutnya berjalan. Jadi jika ada yang menuduh sikap menta’wîl adalah sikap menyimpang dan berjalan di atas kesesatan faham Jahmiyah, dan ber-ilhad dalam ayat-ayat dan asmâ Allah seperti yang dituduhkan kaum Wahhabi, semisal Ibnu Utsaimin dan kawan-kawannya, maka ia benar-benar telah kebelinger dan benar-benar dalam kekeliruan nyata!! Dari sini dapat dimengerti betapa palsunya klaim mengikuti Salaf yang selalu dipropagandakan kaum Wahhabi untuk menipu kaum awam.
Semoga kita diselamatkan dari kesesatan dan penyimpangan dalam agama. Amîn Ya Rabbal Âlamin.
___________________________

[1] Sebenarnya, kata-kata itu bukan disebut sebagai sifat, apalagi Sifat Dzatiyah Allah, ia adalah kata-kata yang di-idhafah-kan (disandarkan) kepada Allah SWT., seperti: يد الله ,عين الله di nama kata يد di-idhafah-kan/disandarkan kepada Allah. Jadi pada dasarnya, salahlah mereka yang menyebutnya sebagai sifat! Berbeda dengan kata: سميع- بصير-عليم kata-kata itu dan semisalnya benar sebagai kata sifat, jika ia disematkan untuk Allah maka ia adalah sifat Allah SWT. Semoga kami berkesempatan menguraikan masalah ini lebih rinci dalam kesempatan lain.

[2] Ta’wîl dimaksud di sini adalah mengartikan sebuah kata atau kalimat bukan dengan makna dzahir karena ada alasan yang mengharuskan atau membenarkan pemindahan makna dari makna hakiki kepada makna majazi. Dan jika ada yang keberatan dengan istilah ta’wil maka kami tidak keberatan jika istilah itu diganti dengan istilah lain, apapun namaya, sebab yang penting bagi kami adalah esensi masalah bukan bertengkar tentang istilah dan penamaan. Harap dimengerti dengan baik!

[3] Dalam artikel lain insyaallah akan dibahas masalah tafwîdh.

[4] Fathu al Majîd Syarah KItab at Tauhîd:405.

[5] Ber-ilhad dalam ayat-ayat dan asma’ Allah adalah sikap memplesetkan ayat-ayat dan asma’ Allah yang sangat dikecam keras dalam Al- Qur’an. Secara bahasa kata ilhâd artinya membelokkan/memiringkan. Ber-ilhad dalam sifat dan asma’ Allah itu dilakukan dengan salah satu dari tiga sikap, 1) menolak, 2) menta’wil dan 3) menyalahinya. Menta’wil dalam pandangan Wahhabiyah sama dengan men-tahrif (memplesetkan/merusak makna hakiki). Ibnu Utsaimin mendefenisikan tahrîf dengan mengataan, ”Men-tahrif itu merubah lafadznya atau memalingkan maknanya dari yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya, seperti ia berkata, kata استوى على العرش Allah bersemayam di atas Arsy-Nya diartikan menguasai Arsy-Nya. Atau ينزِلُ ربُّنا إلي السماء الدنيا Tuhan turun ke langit dunia diartikan dengan turun perkara-Nya, bukan Tuhan yang turun! (Baca Syarah Aqidah al Washithiyah: 63.) Jadi siapapun yang menta’wil ayat-ayat sifat berarti ia benar-benar telah ber-ilhad dalam asmâ’ Allah dan itu sikap menentang dan merusak agama dan ia sangat terkecam! Demikianlah kaum Wahhabi memahami agama dan menyikapi para sahabat Nabi mulia dan para Salaf Shaleh! Para sahabat kini mereka tuduh sebagai kaum Mulhidîn dalam asmâ’ dan ayat-ayat Allah SWT., sementara itu dalam rangka mengelabui kaum awam mereka mengklaim bahwa mazhab mereka adalah mazhab para sahabat dan Salaf Shaleh! Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS.18 [al Kahfi]:5).


[6] Syarah Aqidah al Washithiyah: 58-63.



Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

AYAT TASYBIH

   Mengenai ayat mutasyabih yg sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan, wajah dll yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat-ayat dan hadits tersebut.
  
   Sebagaimana makna Istiwa, yg sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT” , entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat-ayat dan Nash hadits lain, bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits qudsiy disebutkan Allah swt turun kelangit yg terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir,
maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka, jelaslah bahwa hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan hadits qudsiy diatas, yg berarti Allah itu tetap di langit yg terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yg terendah.

   Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab : ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”, demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yg beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak baik yg mempermasalahkan masalah ini.

   Lalu bagaimana dengan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.
Juga sebagaimana hadits qudsiy yg mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya….” (shahih Bukhari hadits no.6137), 

   Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yg taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.

   Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.

1.Pendapat Tafwidh ma’a tanzih
Madzhab tafwidh ma’a tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd Allah swt, dengan i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan). Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah. dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh.

2.Pendapat Ta’wil
Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri). Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.
seperti ayat :
”Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) (QS Attaubah:67), dan ayat : ”Innaa nasiinaakum”. (sungguh kami telah lupa pada kalian QS Assajdah 14).
Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : ”dan tiadalah Tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64)
Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569) apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?

   Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, ”wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125)
Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy). Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas Tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).

Walillahittaufiq

Siapakah Ahlussunnah Waljama'ah

Siapa Ahlussunnah waljama'ah?

   Yang pertama kata ahlu, secara bahasa berarti sahabat atau orang yang membela sekuat tenaga. Sunnah secara bahasa berarti jalan, secara istilah berarti segala sesuatu yang di nisbatkan kepada Rasul baik itu perbuatan, perkataan, diamnya secara riwayah atau dirayah, kenapa sunnah dipilih bukan al-Quran? Karena jika kita memagang sunnah pasti memagang al-Quran, adapun yang memegang al-Quran saja, ada yang menolak sunnah seperti quraniyun, inkarusunnah atau menolak sebagian seperti syiah dan muktazilah.

    Jama'ah berarti bersama, yang dimaksud disini adalah jamaatulhaq, mereka adalah sahabat Nabi dan yang berada dijalan mereka,  karena mereka murid langsung dari Nabi, dan mrmahami sunnah karena dibawah bimbingan Nabi, lalu secara langsung Nabi, lalu kenapa dikatakan jama'ah? Kenapa enggak dikatakan sahabat aja? Ya untuk menunjukan bahwa pemahaman mereka selalu menjadi mayoritas umat islam, dan Nabi pernah menjelaskan kalau umatnya tidak mungkin bersatu dalam kesesatan. Jadi kesimpulannya ahlussunnah wal jamaah secara istilah berarti orang-orang yang membela dan beramal dengan al-Quran dan sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat Nabi dan murid-muridnya dan menjadi mayoritas umat islam sepanjang zaman.

Jadi salah satu cirinya adalah mayoritas, dari abad 4-14 yang menjadi mayoritas muslim adalah Asyary-Maturidy, ini bukan klaim, tapi begitulah sejarah, bukti? Mayoritas pusat keilmuan yang menjadi rujukan didunia, seperti al-Azhar, Fez, Qairawan, Syinqit, Damaskus, Demak, Deoband, Shahranfur, Nizhamiyah, dan mufti besar Usmany, Ayyubi, Mamalik, Aceh Darusalam, Mughal, dll. Bisa dilihat dari buku yang dijarkan dipusat keilmuan itu. Mengeluarkan Asyairah-Maturidiyah dari ASWAJA sama dengan mengatakan bahwa ASWAJA minoritas, dan ini tidak mungkin.

Tapi bagaimana dengan sebelum kedatangan imam Asyary? Maka dari itu ada qaidah dalam mazhab Asyairah, bahwa ASWAJA adalah yang beraqidah seperti qaidah-qaidah yang ditulis oleh imam Asyary-Maturidi walaupun tidak menisbatkan diri kepada keduanya, karena inti aqidah itu keyakinan, bukan penisbatan nama, sebagaimana kita ketahui kalau dalam ASWAJA mengharamkan taqlid pada ushul aqidah, jadi penisbatan pada dua imam ini hanya bentuk terimakasih kita pada beliau karena telah merumuskan aqidah islam secara benar dan lengkap dari bab ilmu, uluhiyat, risalat, samiyat, iman-kafir dan mengkonter yang tidak sesuai pemahaman salaf.

   Sebagai bukti diajarkan kitab aqidah tahawiyah dimadrasah bermazhab Asyairah, padahal imam Tahawi tidak menisbatkan dirinya kepada Asyary Maturidi. Ada juga yang tidak tahu bahwa dirinya bermazhab sama dengan Asyary-Maturidy karena salah paham terhadap kedua mazhab itu, mereka juga dianggap ASWAJA. Begitu juga sahabat dan salafusshaleh lainnya, semua dianggap ASWAJA, bahkan atas riwayat dari merekalah pemahaman mazhab Asyary-Maturidy, adapun yang menisbatkan diri kepada Asyary-Maturidy tapi bertentangan dengan kaidah-kaidahnya seperti ahbash dalam takfirnya maka mereka dianggap melenceng dari ASWAJA walaupun menisbatkan diri kepada Asyairah-Maturidiyah.

   Lalu bagaimana dengan kelompok-kelompok sekarang ini yang menisbatkan diri kepada mazhab sunny, seperti IM, tariqat sufiyah, NU, salafy, JT, Muhammadiyah, JI, ISIS, dll, Apakah mereka bermazhab sunny? cek aja satu-satu bagaimana aqidah mereka, nama bukan ukuran, tapi keyakinan dalam hati, sangat beda antara satu orang dengan orang lainnya, tapi hukum pukul rata akan menjadi suatu masalah.

~Ustaz Fauzan pelajar Damaskus Suriah~


Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

Saturday, 24 September 2016

HUKUM MEMPERINGATI MAULID

                                 ☆KHULAFAURRASYIDIN TENTANG MAULID☆
Assalamu'alaikum Warahmatullah wabarakatuh...
   Acap kali kita mendengarkan golongan Wahabi salafy memvonis amaliayah kita Ahlussunnah waljama'ah sebagai bid'ah dholalah, iya... bid'ah dholalah.
Kenpa demikian? karena menurut idielogi mereka, bid'ah itu tiada pembagian, disebabkan ada hadis tentang bid'ah yg sering mereka katakan ketika kita ingin berdiskusi dengan mereka, dan seolah-olah orang lain tidak faham dengan hadis itu.

   Hadis yang sering mereka lontarkan adalah "Kullu bid'atin dholalah'' tiap-tiap bid'ah adalah sesat,
tapi mereka mengartikannya secara textual, mengartikannya secara dhohiriyah hadis, namun mereka membagi bid'ah kepada bid'ah duniawi dan bid'ah ukhrawi, aneh bukan?
mereka yg mengatakan semua bid'ah sesat tanpa terkecuali, tapi mereka membagi bid'ah.
siapa sebenarnya yg ahlul bid'ah? siapa yg sesat?

Berangkat dari situ, kita membahas sedikit tentang maulid sebagaimana yg sering kita lakukan untuk memperingati dan bersyukur atas kelahiran Rasulullah SAW. sebagai nikmat antara nikmat yg besar yang Allah SWT berikan kepada kita.
Namun sungguh aneh, mereka juga anti maulid, mereka berasumsi maulid itu bid'ah, bahkan tidak kurang mereka katakan ''mana dalilnya?'' jika maulid itu bagus, tentu para sahabat ra udah duluan melakukannya, begitulah lontaran kata-kata yg sering kita dengarkan dari mulut-mulut mereka.

Oleh demikian, pada kesempatan ini In-Sya-Allah saya akan memberikan bukti para sahabat ra tidak mengharamkan maulid, malahan sebaliknya.
Kita disini mengambil dari sahabat yang 4 (empat) yg masyhur disebut sebagai Khulafaurrasyidin.
Namun, saya tidak heran jika dengan dalil-dalil berikut akan mereka katakan dalil palsu dan sebagainya, bahkan tidak kurang memvonis kita sebagai Syi'ah dan mereka tidak mempercayai akan dalil-dalil berikut, iya.... mereka tidak percaya kepada dalil karena mereka tidak membutuhkan dalil tapi membutuhkan HIDAYAH dari Allah SWT.

1. Saidina Abu Bakar assiddiq ra.
♡قال أبوبكر الصديق رضى الله عنه: من أنفق درهما على قراءة مولد النبي ﷺ كان رفيق فى الجنة♡
‘Telah berkata Abu Bakar As-Siddiq ra : Barangsiapa yang menafkahkan satu dirham bagi menggalakkan bacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di dalam syurga.”

2. saidina 'Umar ra
♡ قال عمر رضى الله عنه: من عظم مولد النبي ﷺ فقد أحيا الإسلام♡
"Umar ra berkata: barang siapa yg mengangungkan maulid Nabi SAW, maka sungguh ia telah menghidupkan Islam"

3. Saidina Ustman ra.
♡قال عثمان رضى الله عنه : من أنفق درهما على قراءة مولد النبي ﷺ فكأنما شهد عزوة بدر وحنين ♡
Telah berkata Utsman ra : "Sesiapa yang menafkahkan satu dirham untuk majlis membaca maulid Nabi SAW. maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar dan Hunain".

4. Saidina Ali kw.
♡ قال علي رضي الله عنه وكرم وجهه : من عظم مولد النبي ﷺ وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بإيمان ويدخل الجنة بغير حساب♡
Telah berkata ‘Ali ra KW : “Sesiapa yang membesarkan majlis maulid Nabi SAW dan kerananya diadakan majlis membaca maulid, maka dia tidak akan keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan masuk ke dalam syurga tanpa hisab”.

Demikianlah penjelasan maulid semoga bermanfaat bagi kita dan tidak terpengaruh dengan pahaman-pahaman Wahabi mujassimah, begitu juga anak cucu kita.
amin...


Terimakasih Atas Kunjungan Anda! jangan lupa membagikan artikel ini agar saudara-saudara kita dapat menghindari pahaman mereka,

Enter your email address:

Author-rights® by: QH

Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks
notifikasi
close